Dari Ujung Selatan Australia ke Jantung Pekalongan: Cerita Garry Menyusuri Batik dan Lindungan Owa Jawa
Dari Ujung Selatan Australia ke Jantung Pekalongan: Cerita Garry Menyusuri Batik dan Lindungan Owa Jawa
PEKALONGAN, 18 Oktober 2026 — Suara deru kendaraan perlahan berganti dengan teduhnya riuk daun dan hangatnya sapaan warga lokal. Pekalongan tak hanya menyimpan kekayaan seni kain Nusantara, tetapi juga sudut-sudut hijau yang menawarkan kedamaian luar biasa bagi siapa saja yang mengunjunginya. Hal inilah yang dirasakan oleh Garry D., seorang pemandu wisata asal Hobart, Tasmania—sebuah pulau di Australia paling selatan yang berbatasan langsung dengan kawasan Antartika.
Perjalanannya di Jawa—yang baru pertama kali ia kunjungi setelah berulang kali menyambangi Lombok—membawanya menyusuri salah satu rute paling berkesan di Pekalongan.
Sentuhan Seni Pesisir di Wiradesa
Petualangan Garry dimulai dari kawasan Wiradesa, tepatnya di Batik Pesisir milik tokoh batik terkemuka, H. Failasuf. Di sini, Garry menyaksikan secara langsung bagaimana lembaran kain putih disulap menjadi mahakarya sarat warna dan makna lewat goresan canting para pengrajin lokal. Kehangatan ruang pamer dan detail ragam hias motif pesisiran menjadi pembuka yang manis sebelum ia melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya perbukitan Pekalongan.
Kehangatan Owa Kopi dan Kedamaian Alam Sokokembang
Tujuan berikutnya membawa Garry ke Owa Kopi, basecamp kegiatan konservasi yang dikelola oleh komunitas Swara Owa. Di bawah naungan rindangnya hutan Sokokembang, ia disambut oleh Pak Tasuri, sosok penggiat konservasi sekaligus penjaga hutan yang tersohor akan keramahannya.
Sebagai seorang pemandu wisata alam (nature tour guide) di negara asalnya yang terbiasa mengenalkan flora dan fauna unik Australia kepada wisatawan dunia, Garry merasa memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan apa yang ada di Pekalongan. Keanekaragaman hayati Jawa, khususnya keberadaan fauna endemik seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), memberikan impresi mendalam baginya.
Di Owa Kopi, suasana tenang benar-benar menyihir Garry. Sambil menikmati secangkir kopi khas Sokokembang dan sajian jus segar, rasa lelah perjalanan seketika luntur. Ia bahkan sempat tertidur lelap di tengah sejuknya udara hutan.
"Sangat damai di sini. Sangat mudah untuk merasa rileks dan tenang. Begitulah magic-nya ketika kita berada di alam bebas," ungkap Garry dengan senyum hangat.
Janji Kembali dan Pesan Kesan yang Berkesan
Sebelum melanjutkan perjalanannya menuju Wonosobo, Garry menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas hospitality warga dan keasrian alam Pekalongan. Pengalaman meminum kopi di tengah kebun dan keramahan Pak Tasuri beserta tim menjadi momen istimewa yang ingin ia bagikan kepada teman-temannya di Australia.
"Terima kasih banyak sudah menerima saya di sini. Ini tempat yang sangat indah untuk menghabiskan hari. Saya pasti akan kembali lagi ke Jawa suatu saat nanti dan membawa beberapa teman untuk mencoba kopi serta bertemu dengan orang-orang ramah di sini," tuturnya menutup perbincangan.
Catatan & Kesaksian Pendamping Perjalanan
Sudut Pandang Pemandu & Teman Perjalanan (Om Hands):
Perjumpaan Om Hands—seorang fotografer dan aktivis lingkungan asal Pekalongan—dengan Garry bermula secara tidak sengaja di dalam gerbong kereta eksekutif rute Purwokerto menuju Pekalongan. Dari obrolan hangat di atas rel, keduanya bertukar kontak hingga akhirnya Om Hands berkesempatan mengajaknya keliling Pekalongan.
Perjalanan dilakukan dengan cara yang sederhana: berboncengan menunggangi motor Vixion yang dilengkapi side box di bagian belakang. Kendati tampak lelah akibat jarak tempuh yang jauh, Garry adalah sosok yang sangat humoris, gemar melontarkan jokes spontan, dan memiliki kepribadian yang sangat hangat. Ia juga sangat dermawan—tak segan memberikan tip bagi pramusaji saat makan di sebuah resto di Bojong, atau mengajak para pengrajin batik di Wiradesa untuk berfoto bersama dengan penuh keceriaan.
Kebersamaan yang singkat ini menumbuhkan ikatan yang erat; Garry kini bahkan menganggap Om Hands seperti bagian dari keluarganya sendiri.
Ada momen menarik saat mereka mengamati kawasan hutan Petungkriyono. Ketika Om Hands menyebutnya sebagai "hutan virgin yang asli", Garry langsung meluruskan dengan kekaguman tinggi:
"Oh tidak, inilah hutan Pekalongan yang sebenarnya! Sangat indah, alami, dan tiada tandingannya." Bagi Garry, keasrian hutan Pekalongan adalah salah satu keajaiban alam di Jawa yang tiada duanya.
Kesan mendalam itu makin terlihat saat mereka mulai bergerak turun dan melintas di Pasar Pakisputih, Kedungwuni. Melihat pemandangan hijau mulai berganti pemukiman, Garry mendesah pelan, "Ah, udah panas lagi... udah ngga adem. Udah ngga ada penampakan hutan-hutan lagi di kanan kiri jalan..." Sebuah ungkapan tulus dari seorang petualang yang telah jatuh hati pada keasrian alam Pekalongan.
Fath



Komentar
Posting Komentar